Bimbasby’s Weblog

Artikel

RANGSANGLAH OTAK ANAK DENGAN BERMAIN

(Sebuah Wacana Untuk Substansi PAUD)

Dalam Simposium Nasional Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) II di Gedung Depdiknas, Jakarta, terungkap bahwa anak yang sudah terlanjur maniak baca pada usia di bawah 6 tahun cenderung menunjukkan tanda-tanda kejenuhan saat menginjak masa remaja, masa dimana sebenarnya justru diperlukan minat baca yang tinggi agar bisa menyerap banyak informasi dan materi pelajaran. Menurut Pamela C.Phelps, Pakar Pendidikan Anak Usia Dini dari AS yang juga guru dan Direktur dari Creative Pre-School, sebuah lembaga PAUD di Florida AS yang terakreditasi oleh National Association for The Education of Young Children (NAEYC), yang tampil dalam simposium itu menyatakan bahwa tidaklah salah memperkenalkan huruf dan angka pada anak sejak dini, tetapi tidak diperkenankan memaksa anak-anak usia dini tersebut (dibawah 6 tahun) untuk membaca buku dan menghitung angka-angka.

Riset di AS telah membuktikan adanya kejenuhan minat baca anak yang dikarbit sejak dini. Sebaliknya, anak yang dibiarkan menemukan kemampuan membaca secara alami justru makin gemar membaca dan menunjukkan prestasi belajar pada masa sekolah lanjutan hingga perguruan tinggi.

Pamela juga memaparkan bahwa perlakuan terhadap anak usia kurang dari 6 tahun, sebaiknya lebih sarat dengan rangsangan berupa permainan. Sebab Dunia Anak adalah Dunia Bermain! Permainan bisa berupa gerakan, bunyi-bunyian, warna-warni maupun suasana yang menyenangkan bagi anak tanpa adanya banyak perintah dan larangan! Fenomena yang justru terjadi yaitu adanya kekhawatiran dari orang tua ketika melihat anaknya sedang bermain. Bahkan ada yang over protektif sampai terlalu mengatur aktivitas anak. Larangan hanya akan menghambat kreativitas anak. Larangan hanya diberikan apabila gerakan sang anak mengancam keselamatannya, seperti memainkan gunting dan korek api atau meloncat dari meja ke lemari. Pendapat ini sangat sesuai dengan konsep dasar Metode MBA-AIUEO yaitu “Bermain sambil Belajar”, dimana di

biMBA-AIUEO, seluruh proses pembelajaran harus 100% dalam suasana yang menyenangkan dengan dasar

Fun Learning dan berbasis kompetensi, sehingga “Dunia Anak adalah Dunia Bermain” itu benar-benar dipahami dan diaplikasikan secara positif.

Pamela juga menekankan, permainan harus melatih sensor motorik anak secara wajar. Permainan yang sarat rangsangan bertujuan untukmenyeimbangkan perkembangan otak kiri, yang berkaitan dengan kemampuan berlogika dan otak kanan, yang berhubugan dengan kemampuan berimajinasi. Bersamaan dengan itu, perlu adanya proses pembentukan karakter dengan memperkenalkan budi pekerti pada anak. Relevansi pendapat ini dengan biMBA-AIUEO adalah karena biMBA-AIUEO mempunyai metode yang merupakan gabungan Fun Learning, Individual dan Small Step System, kombinasi kemauan dan kemampuan anak, serta variasi aspek kognitif , afektif dan psikomotorik secara persuasif dan individual. Di biMBA-AIUEO, permainan yang bisa membantu si kecil untuk mengembangkn kreativitasnya, misalnya dengan bermain puzzle yang bermanfaat untuk merangsang imajinasinya dan mengembangklan kemampuan visualnya.

Mengutip dari website Sampoerna Foundation : Kurikulum Anak Usia Dini Terabaikan menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini perlu mendapat perhatian yang khusus. Berbagai riset menunjukkan jika pada masa usia dini terutama masa emas (4 tahun kebawah) seorang anak mendapat stimulasi maksimal, maka potensi anak akan tumbuh dan berkembang pula secara optimal. Potensi kecerdasan sangat bergantung pada rangsangan (stimulus) yang diterima, terutama pada usia 0-8 tahun. Menurut riset para ahli pendidikan, pembentukan potensi belajar pada seseorang, sebanyak 50% terjadi pada usia 0-4 tahun. Oleh sebab itu, usia balita yang disebut juga sebagai masa pembentukan merupakan waktu yang paling tepat menanamkan minat anak untuk membaca. Bahkan, seorang psikolog dari Universitas Rutgers di New Brunswick, New Jersey, Judith A.Hudson Ph.D, menyatakan bahwa orang tua dapat mulai memperkenalkan buku pada anak sejak usianya 6 bulan!

Pada usia tersebut, bayi sangat menyukai buku-buku sederhana yang dilengkapi gambar dan lambang.

Kebiasaan belajar dan kegiatan membaca yang ditanamkan sejak dini akan membuat anak terbiasa dengan keberadaan bahan bacaan di sekelilingnya. Stimulus-stimulus yang diberikan sejak awal bisa berupa gambar, komposisi warna yang baik , juga berupa huruf-huruf dan angka-angka. Di biMBA-AIUEO, aplikasinya dengan adanya metode Small Step System, yang merupakan sistem pembelajaran secara Step by Step dengan modul sebagai sarana dalam pembelajaran. Modul yang digunakan berupa gambar-gambar, guruf-huruf dan angka-angka.

Riset yang dikemukakan oleh Pamela bisa menjadi bahan renungan di dalam menerjemahkan substansi PAUD. Karena kesalahan menerjemahkan substansi tersebut bisa mengancam mutu pendidikan secara nasional. Diharapkan biMBA-AIUEO benar-benar bisa menjadi solusi untuk proses pencerdasan kehidupan generasi bangsa. Semoga!!!

sumber :

www.kompas.com

http://pencilbooks.wordpress.com/2008/03/18/membentuk-minat-baca-anak-sejak-usia-dini/

http://pu3solo.multiply.com/

Sosok Pembelajar Bapak Dalang

Seperti apa sosok dalang? Dalang kerusuhan? Tentu saja bukan. Tapi, dalang wayang kulit. Reflek, yang terlintas dalam benak adalah seorang berpakaian adat Jawa dengan tumpukan wayang dan begadang semalam suntuk. Begadang untuk menonton pertunjukkan wayang kulit? Oh No! Bagi sebagian orang, itu bukan kegiatan yang menarik dan menyenangkan. Hal itu juga hanya buang-buang waktu! Begadang untuk menonton siaran langsung pertandingan sepak bola Piala Euro juga hanya buang-buang waktu, kan? So, apa bedanya? Toh, dalam hal waktu, intinya sama-sama merugi!

Tapi, setiap hal itu bagai sekeping mata uang yang mempunyai dua sisi. Persepsi dan argumentasi yang ada tergantung dari sisi mana kita menyikapinya. Kalau boleh saya berpendapat, saya melihat sosok pembelajar dari diri bapak dalang. Bagaimana bisa?

Sebelum berpolemik lebih jauh, berikut ini saya akan mencoba untuk memaparkan sebuah illustrasi tentang sosok bapak dalang yang saya kutip dari artikel yang berjudul “Misteri Minat Baca Masyarakat”. Tentang seseorang yang bernama Kuadi, berumur 37 tahun. Lulusan SMA. Bapak dari tiga anak yang berprofesi sebagi dalang wayang kulit dan penarik becak Jika order mendalang banyak, aktivitasnya sebagai penarik becak libur. Sebuah konsekuensi dari pilihan jalan hidup, bukan?

Cukup demokratis dan realistis!

Bapak dalang ini disukai banyak orang di kawasan Gringsing, Weleri dan sekitarnya, karena ketika masuk sesi goro-goro, via punakawan, bapak Kuadi begitu mahir dalam menyentil dan menyindir penguasa. Segala persoalan politik, sosial dan ekonomi yang mengerutkan dahi bisa disajikan dalam bentuk yang cair, rileks, satir , olok-olokan, lucu sekaligus subversif! Resep jitu keahliannya mendalang adalah karena dia suka membaca! Apapun, baik itu buku maupun koran. Kebiasaan positif itu masih dilakukannya hingga sekarang. Menurutnya, dengan banyak membaca, bisa memperoleh inspirasi untuk menjadi bahan cerita. Tidak pernah mati akal!

Bapak dalang ini memberikan pencerahan kepada setiap orang yang menonton pertunjukkan wayangnya. Sosok sederhana yang mempunyai pola pikir istimewa! Bukan sosok terpelajar, tapi sosok pembelajar! Menurut Andrias Harefa, Pembelajar mengolah kata, Pemimpin menyusun kalimat, Guru merangkai makna. Secara sederhana, bisa disimpulkan bahwa, sebagai dalang, sosok ini bisa menjadi sosok pembelajar, yang bisa mengolah kata dari semua hasil pembelajarannya. Sebagai dalang yang identik dengan sosok pemimpin dalam pertunjukkan wayang kulitnya, bapak Kuadi dituntut untuk mampu menyusun kalimat yang bisa menggugah minat penontonnya untuk tetap bertahan sampai pertunjukan wayang kulitnya selesai. Sebagai dalang, bisa juga menjadi sosok guru yang mampu merangkai makna yang tersirat dari suatu peristiwa atau pengetahuan dan memaparkannya kepada orang lain dengan secara sederhana. Kalau boleh dibilang, dia juga sosok jenius. Mengapa? Karena bicara soal jenius, bukanlah seorang yang harus ber IQ tinggi atau kaum terpelajar. Tetapi, menurut CW Ceran, Jenius adalah kemampuan mengubah yang rumit menjadi sederhana. Dan, bapak Kuadi sudah melalui fase itu!

So, tidak berlebihan, bila dibilang ada sosok pembelajar dalam diri bapak dalang, bukan?

Semoga, tulisan ini bisa menjadi bahan renungan.

Sumber : Indonesia Membaca, http://librarycorner.org


Tinggalkan Balasan

 

November 2009
S S R K J S M
« Jan    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30